BerandaBerita UtamaNasionalRatusan Senjata Ditemukan di Sekolah Jaksel, Polisi Ungkap Awal Mula hingga Konflik...

Ratusan Senjata Ditemukan di Sekolah Jaksel, Polisi Ungkap Awal Mula hingga Konflik Yayasan

- Advertisement -

Ratusan senjata yang ditemukan di sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ternyata berkaitan dengan rencana kerja sama olahraga menembak antara pihak yayasan dan sebuah perusahaan.

Polisi menyebut keberadaan barang-barang tersebut bermula dari perjanjian kerja sama untuk kegiatan olahraga menembak air rifle. Namun, hingga kini penyidik masih mendalami aspek legalitas, kepemilikan, penyimpanan, dan penggunaan seluruh barang yang ditemukan.

Kasus ini menjadi perhatian karena jumlah barang yang ditemukan mencapai 996 pucuk, dengan rincian 995 merupakan senapan angin dan satu lainnya merupakan senjata api jenis Franchi SPA, SPAS-15 kaliber 12 GA.

Di luar persoalan kepemilikan dan legalitas, penyelidikan juga membawa polisi pada konflik internal kepengurusan yayasan yang menaungi sekolah tersebut.

Mengapa ratusan senjata bisa berada di sekolah?

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, hasil pemeriksaan sejumlah saksi menunjukkan keberadaan senjata angin di sekolah berawal dari perjanjian kerja sama antara yayasan dengan PT Lokta terkait olahraga menembak air rifle.

” Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi, keberadaan senjata angin tersebut diawali dari adanya perjanjian kerja sama antara yayasan dengan PT Lokta terkait kerja sama olahraga menembak air rifle,” kata Budi.

Meski asal-usul awal keberadaan barang mulai terungkap, polisi belum menyimpulkan seluruh persoalan telah selesai. Penyidik masih memeriksa status hukum barang, termasuk siapa pemiliknya, bagaimana barang tersebut disimpan, serta untuk kepentingan apa digunakan.

- Advertisement -

Artinya, keberadaan dokumen kerja sama tidak serta-merta menjawab seluruh pertanyaan mengenai status ratusan senjata yang ditemukan di lingkungan sekolah.

Polisi kembali menemukan airsoft gun dan ratusan amunisi

Penyelidikan juga terus berkembang setelah polisi melakukan pemeriksaan ulang terhadap sejumlah ruangan di sekolah.

Tiga ruangan yang diperiksa kembali adalah ruang kerja mantan ketua pengurus, ruang kerja mantan sekretaris, serta ruang sarana dan prasarana.

Dari pemeriksaan tambahan tersebut, polisi menemukan satu airsoft gun beserta berbagai jenis barang pendukung.

Barang yang ditemukan antara lain 117 butir peluru dengan rincian 21 butir kaliber 32 S&W, 19 butir kaliber 380 Auto, 34 butir kaliber 38 Special, 18 butir kaliber 22 WMR, dan 25 butir kaliber 9×19 mm Luger.

Polisi juga menemukan 166 selongsong kaliber 22, lima magazine kaliber 9 mm, dua recoil spring, dua botol green gas, dua tabung gas CO2, dua wadah peluru mimis, serta sejumlah spare part dan aksesori.

Seluruh barang tersebut masih dalam proses pendataan dan pencocokan oleh penyidik.

Temuan tambahan ini membuat proses penyelidikan tidak hanya berfokus pada 996 pucuk yang sebelumnya telah ditemukan, tetapi juga terhadap barang-barang lain yang berada di sejumlah ruangan sekolah.

Apa saja senjata yang ditemukan polisi?

Polisi sebelumnya telah menemukan ratusan barang yang diduga sebagai senjata pada 10-11 Juli 2026 dan kembali melakukan penemuan tambahan pada malam 5 Agustus.

Dari total 996 pucuk yang telah didata, sebanyak 995 merupakan senapan angin. Sementara satu pucuk lainnya merupakan senjata api jenis Franchi SPA, SPAS-15 kaliber 12 GA.

- Advertisement -

Senjata api tersebut disebut milik pria berinisial DS, yang merupakan direktur di PT Lokta Karya Perbakin.

Polisi menegaskan pentingnya meluruskan klasifikasi barang yang ditemukan. Sebab, tidak seluruh 996 pucuk tersebut merupakan senjata api.

“Perlu kita luruskan bersama, penemuan barang yang diduga berupa senjata. Ada 996 yang ditemukan, 995 merupakan senjata angin,” ujar Budi Hermanto.

Klasifikasi tersebut menjadi penting karena status hukum dan karakteristik masing-masing jenis barang dapat berbeda. Karena itu, polisi masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap legalitas serta kepemilikannya.

Bagaimana awal mula senjata disimpan di sekolah?

Keterangan dari pihak PT Lokta memberikan gambaran mengenai alasan ratusan senjata tersebut berada di lingkungan sekolah.

Alhadid Endar Putra, yang disebut sebagai kuasa IWD sekaligus Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin, mengatakan 995 senjata airsoft gun tersebut merupakan milik perusahaan.

Menurut Alhadid, keberadaan senjata di gudang sekolah berkaitan dengan rencana kerja sama ekstrakurikuler menembak antara PT Lokta Karya Perbakin dan pengurus yayasan sebelumnya.

Kerja sama tersebut disebut telah direncanakan sejak 2020. Programnya diarahkan untuk kegiatan olahraga menembak dan pembinaan atlet muda.

“Pertanyaannya, kenapa ada di sekolah yayasan, alasannya karena tahun 2020 itu ada kerja sama kita dengan Pak Suryo, dia pembina juga di yayasan tersebut. Waktu itu kita sepakat mau bikin ekskul menembak untuk atlet muda,” ujar Alhadid.

Dengan demikian, versi pihak perusahaan menyebut keberadaan senjata bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan berkaitan dengan rencana kegiatan olahraga yang sebelumnya telah disepakati.

- Advertisement -

Namun, persoalan berikutnya adalah bagaimana status kerja sama tersebut setelah terjadi perubahan dalam kepengurusan yayasan.

Konflik yayasan menjadi bagian penting dalam kasus ini

Kasus ratusan senjata tersebut kemudian tidak bisa dilepaskan dari konflik internal di tubuh yayasan.

Alhadid menduga persoalan mencuat setelah terjadi perubahan kepengurusan yayasan. Ia menyebut konflik tersebut berkaitan dengan pemberhentian pembina yayasan sebelumnya.

Dari sisi pihak sekolah, keberadaan sengketa justru menjadi alasan mereka akhirnya dapat membuka ruangan yang sebelumnya berada dalam penguasaan pengurus lama.

Kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto, mengakui adanya konflik kepengurusan tersebut.

Menurut dia, setelah IWD diberhentikan, pihak sekolah memperoleh akses untuk membuka ruangan yang sebelumnya tidak dapat mereka masuki. Dari ruangan tersebut kemudian ditemukan berbagai barang yang disebut sebagai barang terlarang, termasuk ratusan senjata.

“Justru karena sengketa itu, kami kemudian memberhentikan dia ketua,” kata Hermawanto.

Pihak sekolah juga mengklaim menemukan barang lain di dalam ruangan tersebut. Namun, temuan-temuan tersebut berada dalam proses penanganan dan pemeriksaan tersendiri oleh pihak berwenang.

Apa yang masih didalami polisi?

Ada beberapa pertanyaan utama yang hingga kini belum mendapatkan kesimpulan final dari penyidik.

Pertama adalah legalitas seluruh barang. Polisi masih memeriksa apakah setiap barang memiliki dokumen dan perizinan yang sesuai.

Kedua adalah kepemilikan. Polisi perlu memastikan hubungan antara barang yang ditemukan dengan pihak yang mengklaim sebagai pemiliknya.

Ketiga adalah penyimpanan. Lokasi penyimpanan menjadi perhatian karena barang ditemukan di lingkungan sekolah, termasuk gudang dan sejumlah ruangan.

Keempat adalah penggunaan. Polisi perlu memastikan apakah barang tersebut benar-benar disiapkan untuk kegiatan olahraga menembak sebagaimana keterangan awal atau terdapat penggunaan lain.

Proses tersebut menjadi penting sebelum penyidik menentukan langkah hukum selanjutnya.

Mengapa legalitas dan penyimpanan menjadi sorotan?

Keberadaan barang yang berkaitan dengan aktivitas olahraga menembak di lingkungan sekolah pada dasarnya tidak cukup dijelaskan hanya melalui adanya rencana kerja sama.

Penyidik tetap perlu memastikan seluruh aspek administratif dan hukum telah terpenuhi, terutama karena jumlah barang yang ditemukan sangat besar dan sebagian di antaranya berupa komponen, amunisi, serta perlengkapan pendukung.

Di sisi lain, konflik kepengurusan yayasan membuat persoalan tersebut menjadi semakin kompleks. Keterangan pihak perusahaan dan pihak sekolah menunjukkan adanya perbedaan perspektif mengenai bagaimana barang tersebut berada di sekolah dan siapa yang mengetahui keberadaannya.

Karena itu, proses hukum perlu memisahkan dua persoalan: sengketa internal yayasan dan status hukum barang yang ditemukan.

Keduanya dapat saling berkaitan dalam kronologi penemuan, tetapi tidak otomatis memiliki konsekuensi hukum yang sama.

Insight: Bukan sekadar soal ratusan senjata

Kasus ini memperlihatkan bagaimana persoalan administrasi, kepengurusan lembaga, dan penyimpanan barang dapat berujung pada persoalan hukum ketika tidak memiliki kejelasan yang memadai.

Dari keterangan sementara, keberadaan ratusan senjata bermula dari rencana kegiatan olahraga menembak. Namun, perubahan kepengurusan yayasan kemudian membuat akses terhadap ruangan berubah dan keberadaan barang tersebut kembali menjadi perhatian.

Di titik inilah penyidikan menjadi penting. Publik tidak hanya membutuhkan jawaban mengenai dari mana senjata itu berasal, tetapi juga siapa pemilik sahnya, bagaimana izin kepemilikannya, mengapa disimpan di lingkungan sekolah, serta bagaimana barang tersebut seharusnya dikelola.

Polisi sejauh ini belum menyatakan kesimpulan akhir mengenai keseluruhan aspek tersebut.

Polisi masih cocokkan seluruh barang bukti

Polda Metro Jaya masih melakukan pendataan dan pencocokan terhadap seluruh barang yang ditemukan.

Pemeriksaan juga mencakup tiga ruangan di sekolah serta barang tambahan yang ditemukan dalam pemeriksaan lanjutan.

Dengan proses tersebut, perkembangan kasus selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil pemeriksaan legalitas, kepemilikan, penyimpanan, dan penggunaan barang.

Untuk sementara, satu hal yang telah dipastikan adalah keberadaan 996 pucuk yang terdiri dari 995 senapan angin dan satu senjata api, sementara polisi masih menelusuri keseluruhan rantai kepemilikan dan penggunaan barang tersebut.

Kasus ini juga menjadi ujian bagi proses penegakan hukum untuk membedakan secara jelas antara konflik kepengurusan yayasan dan persoalan hukum terkait barang yang ditemukan, sebelum menentukan ada atau tidaknya pelanggaran serta pihak yang harus bertanggung jawab.

- Advertisement -

Artikel Terkait :

Artikel Terkait :

Sponsor

Trending

#Taggar Trending