MIMIKA – Bumi Papua tak pernah kehabisan talenta emas di arena atletik. Kini, sorotan tajam tertuju pada Lina Hisage, atlet tolak peluru asal Wamena, Papua Pegunungan. Sejak resmi bergabung dengan pusat pembinaan elite Papua Athletics Center (PAC) pada Januari 2024, gadis berusia 18 tahun ini menjelma menjadi kekuatan baru yang mendominasi kancah tolak peluru nasional hingga level Asia Tenggara.
Lompatan karier Lina terbilang sangat fenomenal. Kurang dari dua tahun ditempa di fasilitas PAC, ia sukses mencetak grafik prestasi yang meroket tajam. Panggung ASEAN School Games menjadi saksi bisu transformasinya. Pada edisi 2024, Lina berhasil membawa pulang medali perunggu dengan tolakan sejauh 12,7 meter.
Tidak cepat puas, ia membalasnya dengan prestasi mutlak pada ASEAN School Games 2025 di Brunei Darussalam. Ia sukses mengunci medali emas usai mencatatkan tolakan spektakuler sejauh 14,72 meter.
Torehan di Brunei ini bukan sekadar medali emas biasa, melainkan penyempurnaan rekor nasional yang sebelumnya ia ciptakan sendiri. Pada ajang invitasi atletik di Jakarta awal 2025 lalu, Lina sukses memecahkan rekor dengan lemparan 13,3 meter, sebelum akhirnya ia pertajam sendiri menjadi 14,72 meter.
“Yang 2024 itu juara 3, 12,7 meter. Kalau yang 2025 ini juara 1, 14,72 meter,” tutur Lina saat ditemui di Mimika Sport Complex, Rabu (16/9/2026).
Balancing Act: Sekolah, Latihan, dan Pengorbanan Orang Tua
Di balik rekor-rekor mentereng tersebut, tersimpan rutinitas disiplin tingkat tinggi. Sebagai atlet pelajar, Lina harus membagi fokusnya. Ia rutin menjalani porsi latihan berat pada sore hari selepas menuntaskan kewajiban akademis di sekolah. Menu latihannya pun sangat kompleks, mulai dari teknik rotasi, penguatan otot pendorong, hingga drill kecepatan ledak (explosive speed).
Menjalani rutinitas monoton hampir setiap hari tak dimungkiri kerap mendatangkan kejenuhan. Untuk menyiasati burnout, Lina memilih cara-cara sederhana. “Kalau jenuh biasanya duduk di tempat teman atau jalan-jalan, beli sesuatu, cerita bareng-bareng di asrama,” ceritanya.
Bagi Lina, tolak peluru bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup untuk mengangkat derajat keluarga. Sosok pemegang rekor dunia tolak peluru putri asal Amerika Serikat menjadi role model-nya dalam bertanding. Namun, bahan bakar utamanya untuk terus berprestasi justru datang dari doa dan pengorbanan kedua orang tuanya di Wamena.
“Hasilnya saya selalu ingat orang tua saya karena mereka yang sudah berusaha untuk saya. Mereka juga selalu mendukung saya. Itu motivasi saya,” tegas Lina dengan mata berbinar. Ia juga bersyukur PAC menyediakan fasilitas bertaraf internasional yang membuat program latihannya berjalan maksimal.
Pendekatan Terukur dan Sentuhan Humanis Sang Pelatih
Di balik mental juara Lina, terdapat tangan dingin pelatih tolak peluru PAC, Yeremias Kiriwaib. Ia menegaskan bahwa kemajuan pesat Lina bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari program sport science yang terukur.
“Materi sehari-hari yang dikasih kami dapatkan dari hasil bongkar pasang dan juga koordinasi dengan tim teknis PB PASI. Sehingga materi dan program latihan yang kami berikan harian itu terukur dan bisa dipertanggungjawabkan progresnya,” jelas Yeremias.
Lina sejatinya adalah jebolan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Papua di Jayapura di bawah asuhan Coach Tyo. Potensi mentahnya kemudian diasah lebih tajam saat direkrut PAC. Yeremias memuji karakter disiplin dan daya serap Lina terhadap instruksi taktik.
Program latihannya pun sangat spesifik: diawali dengan pemanasan aktivasi, dilanjutkan teknik inti, latihan beban, hingga repetisi menggunakan medicine ball. Fokus utamanya adalah penguatan otot inti (core) yang mencakup perut, pinggang, dan punggung.
Ke depan, Yeremias telah mematok target ambisius bagi Lina dan rekan setimnya, Elis, untuk terus menembus batas kemampuan personal (personal best).
Namun, Yeremias sadar betul bahwa atlet bukanlah mesin. Pendekatan psikologis yang humanis tetap menjadi kunci. Ia senantiasa memberikan ruang kebebasan bagi para atletnya saat grafik stres mulai memuncak.
“Saya tidak mengekang mereka. Apabila saya lihat mereka sudah jenuh, saya arahkan, ayo nongkrong atau ayo ke bioskop. Syukurnya mereka mengerti sehingga bisa mengurai kebosanan di tengah-tengah sesi latihan yang ketat,” pungkas Yeremias.



